November 2007


Di manakah

Pemberontak

Engkau bersembunyi?

(Punk Hari Ini by Superman Is Dead)

 

Roy?!?!? Ah…

Ada beberapa kenangan bila mengingat teman yang satu ini.

Tahun 1991-92, saat kelas dua SMA, saya sempat kehilangan satu kata dalam hidup. Adventure! Dan seusai kenaikan kelas, saya nekad mencarinya.

Sebuah sebab pun menjadi alasan. Satu teman perempuan tiba-tiba pindah mengikuti orang tua ke kota Tegal. Kota yang jauh dari Blora, tempat tinggal saat itu. Blora di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, Tegal di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Saat perpisahan, ia memberi alamat sambil mengucapkan kata,” Main ke rumah ya!” Uff..melambung rasanya.

Jadilah saya liften, mengikuti trend remaja saat itu demi bisa menemuinya. Sebagai remaja dari kota kecil, saya memang sangat bokek.

Kenangan lain adalah ketika saya baru lulus kuliah di kota Malang, tahun 1998. Euforia politik melanda mahasiswa. Teman-teman yang lulus saat itu berkobar-kobar dengan idealismenya dan bertekad ikut menjadi salah satu organ dalam reformasi dan masa depan negeri ini. Menjadi orang besar, begitulah kira-kira.

Dalam satu kesejukan pohon di halaman kampus, saya bertanya pada salah seorang karib, seorang yang brilian yang saat itu menjadi otak pergerakan mahasiswa dan orang yang paling dicari karena ketokohannya. Apa mau ikut euforia teman-teman yang lain, memasuki kesempatan yang saat itu terbuka lebar?

Jawabannya sungguh di luar dugaan. “Tidak, saya hanya ingin menjadi petani. Hidup dan merasakan kehidupan bersama mereka!” Sungguh, hampir meledak dada saya saat itu! Terharu sekali. Bagi saya, inilah seorang manusia sejati, yang mempunyai cita-cita hidup nan sederhana namun jelas!

Walaupun saya sempat menganggapnya sebagai sentimentil ala roman picisan, namun ia membuktikan kata-katanya. Sekarang ia hidup berbahagia bersama istri dan anaknya, di sebuah desa di kota Blitar, dan… bertani!

Sedangkan saya, menuju Jakarta, berkelana dari satu peristiwa ke peristiwa lain dan menulis kisah ini, sambil mengingat tentang “Epilog”!

*****

Sekilas, cerita di atas tidak ada hubungannya dengan Roy. Namun baiklah saya jelaskan, bahwa semua cerita diatas mempunyai banyak kemiripan dengan jalan cerita dalam novel Balada Si Roy.

Saya, dan remaja 90-an lainnya yang gemar membaca, pasti tahu tentang novel Balada Si Roy. Ada dua bacaan wajib remaja saat itu, pertama adalah Lupus dan yang agak belakangan adalah Balada Si Roy. Sebagai remaja yang saat itu tidak banyak mempunyai sumber informasi, adanya kedua novel ini bagaikan angin segar. Dua-duanya “berkualitas pemberontak” karena ceritanya tidak pakem layaknya novel picisan yang isinya hanya melulu percintaan cengeng.

Saking kuatnya kedua novel itu, bahkan bisa membuat tokohnya jadi anutan. Setiap remaja pasti memimpikan jadi Lupus atau Roy. Walaupun pada kenyataannya membuktikan tidak bisa demikian. Terkadang jadi Roy dan saat lain berubah jadi Lupus.

“Pemberontakan” Roy ditandai dengan beberapa hal. Yang paling kentara adalah adanya puisi atau kata-kata mutiara sebagai pembuka sekaligus tema sentral yang diangkat pada tiap episode. Puisinya tidak semuanya bagus, bahkan beberapa lebih menyerupai pamflet. Namun isinya yang gagah dan khas remaja membuatnya sangat menarik, bagi remaja tentu saja. Dan sampai saat itu, tidak ada novel yang menyertakan puisi sebagai kata pembuka.

Tema yang diangkat, lebih banyak tentang kekalahan dalam tanda kutip. Dan ini luar biasa! Remaja saat itu, seakan terbuai dan memang sengaja dibuai untuk tidak memikirkan kekalahan. Pikirkanlah tentang kesenangan dan percintaan masa muda, tidak usah memikirkan tentang peliknya kehidupan. Pahitnya kehidupan, biarlah para orang tua yang memikirkan dan menanggungnya. Begitu kira-kira slogan yang diagungkan oleh pemerintah Orde Baru. 

Saat itu gerakan untuk membuat rakyat menjadi massa mengambang dan apolitis kuat sekali. Bagi remaja (terutama mahasiswa), diberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/ NKK dan Badan Koordinasi Kampus/ BKK. Kampus dibuat adem ayem. Silahkan belajar dan bermimpi menjangkau bintang nan jauh di angkasa, tanpa memikirkan tetek bengek kehidupan. Dan kita tahu, selain siswa SMA, mahasiswa adalah pembaca setia novel remaja seperti Balada Si Roy ini.

Maka “pemberontak” menjadi seseorang yang sangat dibenci sekaligus dirindukan.

Gola Gong, yang masih menjadi mahasiswa pada saat menulis Roy, tentulah sangat sadar dengan keadaan ini. Sebagai mahasiswa Fakultas Sastra di kota Bandung, kota  yang menjadi salah satu barometer kehidupan mahasiswa Indonesia, pastilah ia kental bergulat dengan dunia aktivis. Keadaan saat itu sangat memungkinkan seseorang untuk menulis sesuatu yang berbau “kiri” (begitu aktivis mahasiswa biasa menyebut), nyleneh  dan menjadi populer, walau mungkin dicap negatif.

Jika keadaan sangat memungkinkan siapa saja bisa menjadi pemberontak dan terkenal, lalu kenapa Gola Gong memilihnya? Selain Tuhan dan dirinya sendiri, tidak akan ada yang bisa menjawab secara pasti. Dan jika pilihannya kemudian jatuh untuk menjadi penulis, tentulah ia tidak sekedar memilih.

Sebagai anak muda yang sudah memilih masuk Fakultas Sastra ketika baru menginjak bangku SMA, maka menjadi penulis adalah suatu keniscayaan. Selain itu, kehidupannya yang diwarnai beberapa peristiwa yang tidak banyak dialami oleh manusia lain, mendorongnya untuk bercerita.

Balada Si Roy memang bisa disebut sebagai biografi pengarangnya. Walaupun kalau ditanya, Gola Gong pasti menjawab bahwa kesamaan itu karena sebagai penulis harus bisa menjiwai tulisannya. Namun lihatlah episode ketika Roy menghibur Iwin yang baru kehilangan sebelah telinganya akibat kecelakaan. Roy bercerita tentang temannya (yang akhirnya diakui sebagai teman imajiner) yang kehilangan sebelah tangan namun mampu menjuarai turnamen bulutangkis untuk orang cacat di tingkat Asia Pasifik. Bukankah itu cerita nyata yang dialami oleh Gola Gong?

Atau lihatlah episode ketika Roy putus asa akan tulisan-tulisannya yang tidak bisa membuat trend layaknya rambut jambul dan permen karet? Tentulah yang dimaksud adalah trend yang disebarkan oleh Hilman dengan Lupusnya. Dan si Roy saat itu tentulah ejawantah dari Gola Gong sendiri.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Tias Tatanka, bukankah itu ditujukan kepada penulisnya?

Pada akhirnya, biografi dan penghayatan penulis memang tidak bisa dipisahkan. Karena sebagai cerita yang panjang walau dengan alur yang sudah dipilih, pengarang masih punya nafas untuk mengembangkan kreatifitas.

Dan keputusan untuk menyelipkan biografi memang sangat tepat. Walau bagaimanapun, kehidupan seseorang pasti sangat menarik untuk disimak. Hidup memang terlalu luas jika hanya dirangkum dalam satu cerita. Namun jika salah satu episode hidup terceritakan dengan baik, bukankah itu merupakan cerita yang luar biasa.

Dan itulah puisi yang indah sekali!

*****

Ketika ada rencana novel Balada Si Roy akan di relaunching, saya sangat terkejut sekaligus gembira. Sebagai teman yang telah bersama-sama mengarungi masa remaja, saya sangat rindu akan kehadirannya. Namun di saat saya menyadari bahwa saya dan teman-teman seangkatan sekarang telah berangkat dewasa, tiba-tiba saya merasa sangat tua!

Kehidupan remaja dan pra dewasa saat ini sangat cair yang dipengaruhi beberapa sebab. Pekembangan teknologi terutama informasi adalah salah satunya. Pilihan mereka menjadi sangat beragam dan tak terbatasi. Bahan bacaan yang menarik tidak hanya novel dan buku. Internet menjadi “bacaan” baru dan teman yang sangat intim saat ini.

Sedangkan dalam hal novel dan buku, yang “berbau kiri” dan bahkan “sangat kiri” kini dengan mudah ditemukan bahkan di kios buku paling pojok. Keadaan yang sangat menggembirakan tentu saja. Namun juga membuat seseorang harus berjuang lebih keras untuk bisa sekedar “menjadi dan dicap kiri”.

Kehadiran Roy sangat mengkhawatirkan, tidak saja ketakutan saya untuk dicap menjadi tua. Bukankah sekarang sudah tidak jamannya gagah-gagahan dan bertualangan secara fisik? Bukankah dengan tidak ke mana-mana, kita bisa berada di mana-mana dengan bantuan internet.

Yang paling gawat, dengan terbukanya ruang kehidupan yang pernah disekat pada era Orde Baru, bukankah sekarang tiap orang dengan mudah bisa menjadi dan mengidentifikasi diri sebagai Roy?

Pada akhirnya Roy memang harus tetap berjuang dan bertahan hidup dengan kekuatannya sendiri. Ia memang tidak lagi harus membuktikan diri menjadi “lain” untuk  menjadi terkenal. Hal itu mungkin sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Namun kehadirannya lebih sangat berarti daripada hanya sekedar keberadaanya.

Dalam situasi yang sangat cair sekarang ini, keberadaannya memang bisa meluas ke mana saja. Namun kehadirannya juga bisa mengunjungi teman-teman baru secara lebih intim, menjalin kehangatan persahabatan dengan menggunakan, tentu saja dan harus, kemajuan teknologi. Dan ini akan lebih berarti dari sekedar gagah-gagahan.

Dia tidak harus merasa menjadi tua, seperti teman-teman yang lain.

Salam,

Gatot r

-endorsment untuk novel Balada Si Roy-

di sini hujan
aku hanya bisa memandangnya dari balik jendela
kaca
tanpa bisa menyentuh lelehan airnya
namun bisa kuhirup dinginnya udara

di sini hujan
langit berwarna abu-abu
seperti warna pakaian anak sekolah
yang saat ini entah sedang main hujan-hujanan
atau hanya bisa memandangnya
seperti aku

di sini hujan
dan aku terkurung
terkungkung
walau aku mencoba meraih lelehan airnya
dan membasuh otakku
yang kering akibat polusi
namun ternyata otakku juga yang membuatku mampu menjangkaunya
walau hanya dalam pikiran

di sini hujan
dan aku tak berteman
kecuali dengan keramaian
yang tak sanggup aku menelannya
dan aku tenggelam

di sini hujan
dan aku rindu itu..

–kebayoran lama 1119, 13.04 WIB, 30/09/04–

Halaman Berikutnya »